Pernah ga sih mikir, enaknya jadi anak kecil. rasanya pengen gitu balik lagi ke masa-masa kecil. mereka ga ada beban apapun dihudupnya, ketawa lepas, bercanda-canda sama sahabat. seperti kisah masa kecil aku ini. sebenernya cerita ini sebelumnya udh pernah diposting ke catatan fb, sekarang ada blog. ya dipastelah kesini.
Agak lebai, sedikit ngarang, tapi penuh kenangan
sedikit flashback :')
Awaasss…!!
Hampir saja Andres tersrempet motor karena kami brjalan sambil bercanda.
Yahh…Andres adalah teman masa kecilku dulu. Bersama 4 orang sahabat
lainnya aku menghabisi masa kecilku dengan mereka. Ilham ,Abang Rizky,
Yani, dan Susan.
Aku teringat akan masa kecilku yang penuh kenangan indah bersama mereka.
“Abang, jalan-jalan yuk..mumpung hari libur nihh..” pintaku pada Abang Rizky.
“ Jalan-jalan kemana siihh??” Tanya Ilham yang adalah adik kandung dari Abang Rizky
“Tau nih, mau jalan kemana coba?” tiba tiba muncul Andres yang juga adik kandung dari Abang Rizky
“ A ah, jalan kemana gittuh, ke Gudang ajah yuk” usulku sambil menarik pelan tangan Ilham
Gudang adalah tempat biasa kita bermain kalau hari minggu, banyak
orang-orang berjualan, olah raga, ataupun sekedar kumpul bersama
keluarga. Seperti pasar kaget.
Tak lama setelah Aku dan Yani membujuk mereka bertiga, kami langsung meluncur ke Gudang dan menjemput Susan dirumahnya.
Heeemm…seperti biasa, Gudang selalu ramai jika dihari libur seperti
ini. Banyak orang berlalu lalang disekitar. Saat sedang menyusuri
jalan, mata kita tertuju pada sebuah pohon cerry yang sedang berbuah.
Seakan akan memiliki pikiran yang sama, kami saling berpandangan.
Berniat memanjat pohon itu dan mengambil buahnya.
“ Naik yuk” ajak Ilham
“Ayo ayoo!!” dengan semangat Susan dan Yani menanggapi ajakannya.
Satu persatu dari kami pun memanjat pohon itu dan mulai memakan
buahnya. Setelah puas memakan buah cerry dengan gratis. Kami berniat
pulang.
“ Pulang yuuu, udah sore nihhh” ajak Abang Rizky, yang juga tertua diantara kami.
“Anyok” jawab kami serentak.
Satu prsatu pun turun dengan hati-hati karena sore itu hujan baru saja turun.
Diperjalan pulang, kami berjalan berderetan sambil bergandengan
tangan. Dan bernyanyi riang. Seperti halnya anak Tk yang baru belajar
bernyanyi bersama. Alangkah bahagianya aku saat itu, memiliki
sahabat-sahabat yang slalu setia untukku, menerima aku apa adanya.
Tanpa sadar, sepertinya ada yang kurang diantara kita.
Yah.. Andres . “Woy woy..kemana Andreess????” Tanya Abang Rizky
dengan panik. Semua ikut panik. Melihat disekeliling kami. Andres tidak
ada juga.
Namun sepertinya, aku mendengar suara orang meminta tolong. Apa itu suara Andres???
“Eh, tunggu sebentar deh” pintaku menghentikan langkah.
“ Apaan sih?” Tanya Susan.
“Kayanya ada yang minta tolong” jawabku.
“Hhhaaaa…itu Andreeeeesss” teriak Yani yang melihat Andres dari kejauhan.
“Oiya…ahahahahahahahhh” tawa kami semua yang melihat Andres yang sudah masuk ke dalam kubangan air besar.
“Hus…bukannya bantuin malah diketawain” nasihat Abang.
Kami pun langsung berlari mendekati Andres. Dan apa yang kita lihat,
semau badannya sudah basah karena tercebur dalam kubangan itu.
Tiba-tiba kucing didekatku mengaung. Aku terhenti dari lamunanku. Sejenak aku mengambil air dalam gelas untuk meminumnya.
Dan melanjutkan kembali kisah masa laluku. Hari berganti hari. Aku
berjalan kesebuah gang menuju rumah abang risky, ilham, dan Andres. Aku
lihat sudah ada Yani dan Susan disana. Tapi entah kenapa, mereka tampak
begitu gelisah. Aku menanyakan pada Yani apa yang sebenarnya terjadi.
“ Kenapa sih Yan, ko’ pada cemberut gittu??” tanyaku “ Lu tanya ajh deh ama Ilham” jawabnya.
“ Kenapa sih Ham?” tanyaku masih penasaran
“Kita mau pergi” jawabnya dengan singkat. “ Mau kemana?” “ Kita mau
pindah dari sini, dan gak tau nanti bisa kesini lagi atau engga” jawab
Andres dengan nada lirih
“ Emang kenapa? Ko’ pindah sih? Lagian, mau pindah kemana coba?”
tanyaku seakan tidak percaya bahwa sahabatku yang selalu bersama,
berpetualang,bercanda, tertawa riang akan pergi.
Sambil memandangi sahabatku yang lain, Yani, Susan, Ilham, Abang Rizky, dan Andres.
“ Kita mau pindah ke Sumbawa Sin” jawab abang
“ Hah, sumabawa? Sumbawa dimana sih?” tanyaku seperti halnya anak kecil yang belum tau letak daerah-daerah.
“ Sumbawa itu di Lombok, poko’nya jauh deh dari sini” jawab Susan yang mengerti.
“Iyah, kita mau pindah..soalnya, ayahku dapet kerjaan disana. Dan pastinya kami sekeluarga juga ikut” jelas Abang Rizky.
Tanpa tersadar, setetes butiran air bening jatuh di pipiku. Teringat semua yang pernah kita lalui.
Detik berganti detik menit berganti menit jam berganti jam haripun
berganti demi hari. Sampailah pada waktu yang tidak aku inginkan. Hari
dimana perpisahan diantara kita. Aku, Yani, dan Susan hanya bisa
menatap mereka bertiga. Hari terakhir kita bisa bersama. Keharuan pun
terjadi dihari itu. Canda tawa yang biasanya kita tampilkan lenyap oleh
kesedihan.
“ Ilham, Andres, Rizky…udah yuk kita berangkat” ibu dari mereka
datang memecahkan kesedihan dengan membawa tas berukuran besar dan
dibelakangnya terlihat ayahnya yang juga membawa bawaanya.
“Sinta, Yani, Susan..kita pamit dulu yah, mudah-mudahan nanti kita bisa ketemu lagi” pamit Abang Rizky dan kedua adiknya.
“ Amiin” dengan bersamaan menjawab.
Merekapun menaiki taxi yang akan membawanya ke pelabuhan.
Lama-lama, badan taxi itu mulai tidak terlihat dengan membawa ketiga
sahabat-sahabatku.
Air mata dipipiku jatuh. Dan Aku langsung tersadar dari lamunanku.
Kupandangi foto dalam bingkai, foto kami berenam Aku, Yani, Susan,
Abang Rizky, Andres, dan Ilham. Sungguh satu persahabatan dalam hidupku
yang begitu indah dan mengasyikan. Perjalanan hidup memang panjang.
Membawa pertemuan dan perpisahan. Hari ini aku bertemu, besok aku
berpisah. Namun seiring waktu berjalan kita tetap harus menjalani hidup
ini dan memikirkan tujuan masa depan kita. tetapi satu persahabatan
inilah yang dapat membuat hari – hari dalam hidupku menjadi lebih
bermakna.