BAHASA INDONESIA
ASPEK PENALARAN DALAN KARANGAN ILMIAH
| Disusun Oleh: | |||
| Sinta Apriliastuti |
3EA21
18213501
A. Menulis
sebagai proses penalaran
Menulis merupakan proses
bernalar. Dimana pada saat kita ingin menulis sesuatu tulisan baik itu dalam
bentuk karangan atau pun yang lainnya, maka kita harus mencari topiknya
terlebih dahulu. Dan dalam mencari suatau topik tersebut kita harus berfikir,
maka pada saat kita berfikir tanpa kita sadari kita sendiri telah melakukan
proses penalaran. maka pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan sedikit
mengenai menulis merupakan prosae bernalar.
Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek yaitu :
1. Aspek Keterkaitan ; Aspek keterkaitan
adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan.
2. Aspek Urutan ; Aspek urutan adalah
pola urutan tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian dari
hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan.
3. Aspek argumentasi ; Aspek argumentasi
adalah bagian yang menyatakan fakta , analisis terhadap fakta, pembuktian suatu
pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan.
4. Aspek
Teknik Penyusunan ; Aspek teknik
penyusunan adalah bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten , karangan ilmiah harus disusun dengan
pola penyusunan tertentu dan terknik bersifat baku dan universal.
5. Aspek Bahasa ; Aspek bahasa adalah bagaimana penggunaan bahasa
karangan ilmiah harus disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah .
Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar
keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis
B. Penalaran Deduktif dan Induktif
1. Penalaran Induktif
Induksi / induktif adalah
suatu proses berpikir yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk
menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak
dari penelitian dan evaluasi atas fenomena-fenomena yang ada. Karena semua
fenomena harus diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih
jauh ke penalaran induktif, maka proses penalaran itu juga disebut sebagai
corak berpikir yang ilmiah. Namun induksi sendiri tak akan banyak manfaatnya
kalau tidak diikuti oleh proses penalaran deduktif. Pengertian fenomena-fenomena
individual sebagai landasan penalaran induktif harus diartikan pertama-tama
sebagai data-data maupun sebagai pernyataan-pernyataan, yang tentunya bersifat
faktual pula.
Proses penalaran induktif
dapat dibedakan lagi atas bermacam-macam variasi seperti generalisasi, hipotese
dan teori, analogi induktif, kausal dan sebagainya.
Contoh penalaran induktif :
Harimau berdaun telinga
berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan
melahirkan. Ikan paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
2. Penalaran Deduktif
Sebagai suatu istilah dalam
penalaran, deduktif / deduksi adalah merupakan suatu proses berpikir
(penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada
suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Dari
pengalaman-pengalaman hidup kita, kita sudah membentuk bermacam-macam
proposisi, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus. Proposisi baru itu
tidak lain dari kesimpulan kita mengenai suatu fenomena yang telah kita
identifikasi dengan mempertalikannya dengan proposisi yang umum.
Dalam penalaran deduktif,
penulis tidak perlu mengumpulkan fakta-fakta. Yang perlu baginya adalah suatu
proposisi umum dan suatu proposisi yang mengidentifikasi suatu peristiwa khusus
yang bertalian dengan suatu proposisi umum tadi. Bila identifikasi yang
dilakukannya itu benar, dan kalau proposisinya itu juga benar, maka dapat
diharapkan suatu kesimpulan yang benar.
Uraian mengenai proses
berpikir deduktif ialah seperti silogisme kategorial, entimem, rantai deduksi,silogisme
alternatif, silogisme hipotesis dan sebagainya.
Contoh penalaran deduktif:
Masyarakat Indonesia konsumtif
(umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan
imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif
sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
C.
Isi
Karangan
Isi karangan menyajikan fakta yang berupa benda, kejadian, gejala, sifat ramalan, dan sebagiannya. Karya ilmiah membahas fakta meskipun untuk pembahasan ini diperlukan teori atau pendapat. Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta, yaitu generalisasi dan spesifikasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan, hubungan sebab akibat, analogi, dan ramalan.
1. Urutan Logis
Isi karangan menyajikan fakta yang berupa benda, kejadian, gejala, sifat ramalan, dan sebagiannya. Karya ilmiah membahas fakta meskipun untuk pembahasan ini diperlukan teori atau pendapat. Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta, yaitu generalisasi dan spesifikasi, klasifikasi, perbandingan dan pertentangan, hubungan sebab akibat, analogi, dan ramalan.
1. Urutan Logis
Suatu karangan harus merupakan suatu kesatuan, sehingga harus dikembangkan
dalam urutan yang sistematis, jelas, dan tegas. Urutan dapat disusun
berdasarkan waktu, ruang, alur nalar, kepentingan dan sebagainya.
2. Urutan Waktu (kronologis)
Perhatikan paragraf berikut :
Dahulu sebelum cara immunisasi ditemukan selama puluhan abad, puluhan ribu penduduk dunia mati akibat berbagai penyakit. Di Inggris saja sebelum ditemukan vaksin cacar, kurang lebih 80.000 ribu orang mati karena penyakit itu. Penemuan vaksin sejak abad ke-18 sangat memperkecil angka kematian tersebut.
Tulisan di atas dikembangkan secara kronologis, artinya berdasarkan urutan waktu. Perhatikan kata-kata yang menunjukkan hubungan kronologis tersebut. Urutan kronologis di dalam tulisan secara eksplisit dinyatakan dengan kata-kata atau ungkapan-ungkapan seperti : dewasa ini, sekarang, bila, sebelum, sementara, selanjutnya dan sebagainya.
Pengembangan tulisan dengan urutan kronologis biasanya dipergunakan dalam memaparkan sejarah, proses, asal-usul, dan riwayat hidup (biografi).
3. Urutan Ruang (Spasial)
Urutan ini dipergunakan untuk menyatakan tempat atau hubungan dengan ruang.
Contoh :
Jika anda memasuki pekarangan bangunan kuno itu, setelah anda melalui pintu gerbang kayu penuh ukiran indah, Anda akan berada pada jalan berlantai batu hitam yang membelah suatu lapangan rumput yang dihiasi petak bunga-bungaan dan pohon-pohonan peneduh. Di kiri kanan jalan itu agak ke tengah terdapat lumbung padi, puncaknya berbentuk seperti tanduk dan beratap ijuk.
Ungkapan yang tercetak miring adalah menyatakan urutan ruang.
4. Urutan Alur Penalaran
Berdasarkan alur penalarannya, suatu paragraf dapat dikembangkan dalam urutan umum-khusus dan khusus-umum. Urutan ini menghasilkan paragraf deduktif dan induktif. Urutan umum – khusus banyak dipergunakan dalam karya ilmiah. Tulisan yang paragraf-paragrafnya dikembangkan dalam urutan ini secara menyeluruh lebih mudah dipahami isinya. Dengan membaca kalimat-kalimat pertama pada paragraf, maka pembaca dapat mengetahui garis besar isi seluruh karangan.
Contoh :
Semua mahasiswa selalu memperingati HUT Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus sebagai wujud dari nasionalisme. Beberapa hal yang bisa mereka tunjukkan adalah dengan mengadakan berbagai acara seperti lomba pidato, mengarang, debat dll.
5. Urutan Kepentingan
Suatu karangan dapat dikembangkan dengan urutan berdasarkan kepentingan gagasan yang dikemukakan. Dalam hal ini arah pembicaraan ialah dari yang paling penting sampai kepada yang paling tidak penting atau sebaliknya.
2. Urutan Waktu (kronologis)
Perhatikan paragraf berikut :
Dahulu sebelum cara immunisasi ditemukan selama puluhan abad, puluhan ribu penduduk dunia mati akibat berbagai penyakit. Di Inggris saja sebelum ditemukan vaksin cacar, kurang lebih 80.000 ribu orang mati karena penyakit itu. Penemuan vaksin sejak abad ke-18 sangat memperkecil angka kematian tersebut.
Tulisan di atas dikembangkan secara kronologis, artinya berdasarkan urutan waktu. Perhatikan kata-kata yang menunjukkan hubungan kronologis tersebut. Urutan kronologis di dalam tulisan secara eksplisit dinyatakan dengan kata-kata atau ungkapan-ungkapan seperti : dewasa ini, sekarang, bila, sebelum, sementara, selanjutnya dan sebagainya.
Pengembangan tulisan dengan urutan kronologis biasanya dipergunakan dalam memaparkan sejarah, proses, asal-usul, dan riwayat hidup (biografi).
3. Urutan Ruang (Spasial)
Urutan ini dipergunakan untuk menyatakan tempat atau hubungan dengan ruang.
Contoh :
Jika anda memasuki pekarangan bangunan kuno itu, setelah anda melalui pintu gerbang kayu penuh ukiran indah, Anda akan berada pada jalan berlantai batu hitam yang membelah suatu lapangan rumput yang dihiasi petak bunga-bungaan dan pohon-pohonan peneduh. Di kiri kanan jalan itu agak ke tengah terdapat lumbung padi, puncaknya berbentuk seperti tanduk dan beratap ijuk.
Ungkapan yang tercetak miring adalah menyatakan urutan ruang.
4. Urutan Alur Penalaran
Berdasarkan alur penalarannya, suatu paragraf dapat dikembangkan dalam urutan umum-khusus dan khusus-umum. Urutan ini menghasilkan paragraf deduktif dan induktif. Urutan umum – khusus banyak dipergunakan dalam karya ilmiah. Tulisan yang paragraf-paragrafnya dikembangkan dalam urutan ini secara menyeluruh lebih mudah dipahami isinya. Dengan membaca kalimat-kalimat pertama pada paragraf, maka pembaca dapat mengetahui garis besar isi seluruh karangan.
Contoh :
Semua mahasiswa selalu memperingati HUT Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus sebagai wujud dari nasionalisme. Beberapa hal yang bisa mereka tunjukkan adalah dengan mengadakan berbagai acara seperti lomba pidato, mengarang, debat dll.
5. Urutan Kepentingan
Suatu karangan dapat dikembangkan dengan urutan berdasarkan kepentingan gagasan yang dikemukakan. Dalam hal ini arah pembicaraan ialah dari yang paling penting sampai kepada yang paling tidak penting atau sebaliknya.
D. Fakta sebagai
unsur dasar penalaran karangan
Bakry (1986:1) menyatakan bahwa
Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada
salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai
pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.
Suriasumantri (2001:42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah
suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa
pengetahuan. Keraf (1985:5) berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses
berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju
kepada suatu kesimpulan.
Penalaran
adalah suatu proses berfikir dengan menghubung-hubungkan bukti,fakta atau
petunjuk yang menuju kepada suatu kesimpulan atau dengan kata lain penalaran
adalah proses berfikit yang sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah
kesimpulan. Dan bahan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman
atau pendapat dari beberapa ahli.
Fakta itu
sendiri berarti sebuah hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan sebuah
kenyataan, sesuatu yang benar-benar terjadi dan bukan merupakan sebuah fiktif
(kebohongan), fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara
sistematis (sesuai dengan bukti).
Selain itu,
kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan
jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun
pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi. Memasukkan
fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan sebuah sistem,suatu
klasifikasi akan berhenti jika sudah sampai kepada individu yang tidak dapat
merupakan spesies.
Jenis-jenis klasifikasi
- Klasifikasi sederhana
Suatu kelas hanya mempunyai dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif
Suatu kelas hanya mempunyai dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif
- Klasifikasi kompleks
Suatu kelas
mencakup lebih dari dua kelas bawahan.
Persyaratan klasifikasi
- Prinsipnya
harus jelas
- Klasifikasi harus logis dan konsisten
- Klasifikasi haris bersikap lengkap menyeluruh
Kesimpulan
Aspek
penalaran sangat diperhatikan dalam setiap penulisan karangan ataupun jenis
tulisan lainnya karena itu, seorang penulis harus mengenal kriteria dan
mengetahui prinsip-prinsip proses penaksiran fakta dan kebenaran penarikan
kesimpulan yang sah dalam tulisanyang dibacanya
Kemampuan
penalaran yang logis sangat diperlukan bagi peneliti, selain itu kita juga
perlu mengesampingkan emosi, sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Sebab
penalaran adalah suatu proses berpikir terhadap suatu yang diamati dengan
menghasilkan kesimpulan, sedangkan, penulisan ilmiah merupakan suatu kegiatan
penulisan berdasarkan hasil penalaran penulis terhadap permasalahan ilmiah.
Penulisan
ilmiah mempunyai keterkaitan yang erat dengan konsep penalaran ilmiah, sebab
suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran
seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusunan karangan itu
sendiri.
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar